| Wednesday, September 9, 2009 |
| KADO DI TAS MAMA CACA |
Terhitung sejak awal agustus lalu mama caca punya status baru. Yakni mahasiswi magister ilmu hukum di Universitas Diponegoro. Status ini membawa konsekuensi bagi mama caca sekeluarga. JIka dulu setiap hari caca dan kika bobok ma mama caca, kini setiap akhir pekan mereka mesti merelakan mamanya tidak menemani tidur mereka. Maklum, jarak antara tempat tinggal mama caca dan kota semarang cukup jauh. Butuh waktu 3-4 jam untuk sampai ke ibu kota propinsi jawa tengah itu. Dan di kota itulah universitas Diponegoro terletak. Padahal kuliah bisa berlangsung ampe pukul 8 malam, dan keesokan paginya dimulai pukul 8 pagi. Jadilah tiap akhir pekan mama caca mesti menghabiskan hari jauh dari dua cewek yang lucu-lucu itu.
Yang jelas mama caca amat bersyukur atas kesempatan yang diberikan abah caca sehingga mama caca bisa bersekolah lagi. Dan tentu terimaksih pula untuk anak-anak mama caca yang merelakan mamanya beraktivitas.
Ada kebiasaan unik sejak mama caca kuliah lagi. Seringkali ketika malam hari mama caca sedang menyiapkan bekal untuk kuliah dan bermalam di semarang, caca ikut menunggui dan membantu mama caca. Biasanya dia membantu melipat kerudung seraya bercerita tentang teman-temannya atau bertanya tentang ini itu. Uniknya setelah sampai di semarang, selalu saja ada barang yang nggak tercatat dalam list mama caca tapi masuk juga ke dalam tas itu. Dan biasanya barang-barang itu adalah mainan caca atau kika.
Usut punya usut, ternyata caca sengaja memasukkan barang-barang itu ke dalam tas mama caca buat kejutan.
“Biar mama kaget kalo sampe di sekolah, biar kayak di TV-TV” Ujarnya riang. Ada-ada aja.
“Pasti terinspirasi iklan Bebelac” komentar mama caca dalam hati. |
posted by T.N. Jannah @ 6:08 PM   |
|
|
|
| Wednesday, August 26, 2009 |
| DALAM HITUNGAN HARI, KULIHAT MAKAM ITU BERTAMBAH LAGI.. |
Mama caca sering menziarahi pemakaman itu sejak 18 tahun silam. Tepatnya sejak mama caca tamat Sekolah Dasar dan memutuskan menghabiskan masa-masa pasca pendidikan dasar untuk kemudian melanjutnya di Pesantren itu. Dan pemakaman itu menjadi akrab bagi para santri karena di sanalah keluarga pendiri pesantren itu dimakamkan. Masih terbayang dalam pelupuk mata mama caca, setiap hari Jum’at tiba, maka santri yang mendapat giliran akan membacakan ayat-ayat al-Qur’an, doa-doa dan kalimah thoyyibah lainnya di pemakaman itu. Yang kami yakini doa-doa itu akan sampai pada si mayyit dan pahala bacaan itu akan menjadi pahala sang pembaca jua.
Demikian juga ketika pada akhirnya mama caca tamat dan menjadi bagian dari keluarga tersebut, mama caca masih setia menziarahi pemakaman itu. Dan hingga delapan belas tahun berlalu, tak ada yang berubah dari pemakaman itu. Suasananya yang damai, dua buah pohon kamboja yang tak begitu besar yang menaungi tiga buah makam. Ya… ada tiga makam di tempat pemakaman itu. Tiga makam yang terletak agak menyudut. Selebihnya adalah tanah kosong dan sedikit tempat berteduh untuk para peziarah. Makam yang sederhana. Tanpa hiasan atau pernak-pernik yang mengada-ada. Semuanya sangat bersahaja, yang membuat para peziarah seakan terlibat untuk menyemai kesyahduan dan kembali teringat akan asal muasal manusia. Dari tanah, dan akan kembali ketanah. Tanpa harta, jabatan atau perhiasan. ..
Namun, ada yang berubah dalan sebulan ini. Terhitung di akhir bulan Juli hingga pertengahan agustus lalu. Tiba-tiba mendung seolah bergelayut di atas makam itu. Tidak sampai 40 hari, ada 3 makam baru menjulang di atas tempat pemakaman itu. Tentu menjadi biasa jika itu adalah tempat pemakaman umum. Tapi pemakaman itu hanya dikhususkan bagi bersemayamnya jenazah-jenazah dari sebuah keluarga. Dan dalam satu bulan ada tiga nisan baru di tempat pemakaman itu.
Jika sejak delapan belas tahun hingga dua bula lalu di tempat pemakaman itu hanya hanya ada tiga makam, kini ada tiga nama baru yang tertulis di atas batu nisan. Dan tanah di atas tiga makam itu masih tampak merah. Demikian pula bunga-bunga yang terlihat masih basah. Kedukaan membayang diwajah orang-orang yang ditinggalkan. Begitu bertubinya cobaan itu. Pertama adalah kehilangan seorang adik yang wafat setelah berjuang melawan tumor otak. Lalu sepuluh hari kemudian ibunda tercinta menyusul di panggil keharibaan-Nya. Dan hanya dua minggu berselang giliran ananda tercinta berpulang setelah sebuah kecelakaan merenggutnya.
Kulihat air mata masih memenuhi pemakaman itu. Hingga tubuh yang terbujur kaku terhalangi tanah dan debu. Tak kuasa aku menahan haru. Hanya kepada Tuhan aku mengaku. Betapa hatiku ikut lebur dalam duka yang mendalam itu. Kucoba menengadah ke angkasa biru. Tuhan… begitu berat cobaanmu atas orang-orang sholeh itu. Orang-orang sholeh para pecinta ilmu. Yang senantiasa mengajak manusia di sekitarnya untuk kembali ke jalan-Mu. Inikah bukti kuasa tanpa tanding milik-Mu, yang menjadikan cobaan sebagai berkah ampunan dan kenikmatan menggapai ridlo-Mu.
Tuhan.. ampuni aku. Yang masih juga tak kuasa melihat duka di mata para pecinta ilmu itu. Ampuni aku, ampuni setiap jejak langkah orang-orang yang telah menghadap-Mu, ampuni setiap dosa dan khilaf guru-guruku. Meski dosa itu hanya serupa titik debu. Dan setelah delapan belas tahun, di awal ramadlan kali ini kudapati makam itu telah bertambah tiga lagi. Hanya dalam hitungan hari. Semoga keteguhan dan kekuatan hati menjadi milik orang-orang yang mendapat cobaan ini. Sebagai tanda kasih sayang dan bertambahnya derajat bagi orang-orang yang selalu Alloh kasihi. Amin. |
posted by T.N. Jannah @ 6:33 PM   |
|
|
|
| Saturday, June 27, 2009 |
| MENGENAL INDONESIA LEWAT MATA SEORANG BOLANG |
Siapa tak kenal bolang. Nama yang memerankan tokoh bocah dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui kisah si Bolang, mereka berbincang tentang berbagai kekhasan yang ada di daerahnya. Apa saja, entah itu makanan, permainan maupun ketrampilan khas yang sudah sangat jarang dimiliki oleh anak-anak pada umumnya, khususnya mereka yang tinggal di perkotaan.
Mungkin tulisan ini agak mirip promosi gratis buat Trans 7. Tapi mama caca amat bersyukur caca gemar melihat si Bolang. Bagaimanapun Bolang dengan segala tingkah lakunya merupakan protret anak Indonesia yang amat dekat dengan alam dan lingkungannya. Mereka amat trampil membuat mainan-mainan dari lingkungan sekitarnya. Mulai pelepah daun pisang, bambu, pohon ubi kayu, lumpur, sungai, laut bahkan kepiting dan kalajengking. Semuanya, segala yang ada disekitarnya adalah tempat untuk bermain dan belajar.
Sungguh menakjubkan melihat mereka, anak-anak kecil dalam cerita si bolang itu dapat menebang pohon pisang, bamboo atau rotan dengan teknik yang agaknya sudah amat mereka kuasai. Karena siapapun tahu bukan hal mudah melakukan hal itu. Bahkan bagi orang dewasa yang tinggal di perkampungan seperti mama caca sekeluarga. Ketrampilan yang berkaitan dengan alam yang dimiliki teman-teman si Bolang mengingatkan mama caca pada lingkungan di sekitar kampong mama caca. Kajen, sebuah desa yang terletak di wilayah kabupaten Pati. Jawa Tengah. Meski berjarak 45 menit perjalanan dari pusat kota kabupaten, tapi kajen adalah kampong yang amat padat. Gang-gang kecil yang berkelok-kelok. Selalu ada rumah di belakang sebuah rumah. Tak ada lagi sawah. Hanya ada sedikit lahan kosong.
Suatu ketika, seusai melahirkan Kika, mama caca harus menyelenggarakan selamatan selapan (36 hari) kelahiran Kika. Menurut tradisi yang ada, dalam acara selamatan selapan hari kelahiran bayi, harus disertakan kupat dan lepet. Dua jenis makanan itu tak boleh alpa karena menyangkut nilai filosofis yang dalam tradisi jawa berkaitan dengan selamatan itu sendiri.
Padahal dua jenis makanan itu, kupat dan lepet, adalah jenis makanan yang mesti dibungkus dengan daun kelapa muda atau janur. Kebetulan ada beberapa pohon kelapa di kebun abah caca. Persoalannya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa untuk mengambil janur itu? HERAN JUGA!! Ternyata di kampong mama caca tak ada yang mengaku bisa memanjat pohon kelapa. Bahkan para santri pun ketika ditanya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa. Semuanya menggelengkan kepala. Seorang tetangga bercerita, dulu ada orang kajen yang biasa dimintai tolong memanjat kelapa. Tapi sekarang orang itu telah pindah ke Kalimantan.
Dan mesti akhirnya mama caca membeli janur itu di pasar, ada yang berkecamuk dalam dada mama caca. Betapa ketrampilan paling minimal yang dulu pasti dimiliki oleh orang-orang kampong, kini telah menjadi barang langka. Mungkin mama caca tak heran jika orang yang hidup dikota-kota besar tak bisa memanjat kelapa. Tapi jika itu adalah orang-orang di kampong yang seharusnya lebih akrab dengan alam sekelilingnya, tentu agak disayangkan.
Entahlah, mama caca rasa kita memang selalu terlihat gagap dalam melihat apa saja. Bahasa Inggris kita tak mahir, tapi bahasa kromo hinggil kita juga belepotan. Membaca kitab kuning kita masih kesulitan, mempelajari sains kita gelagapan. Membuat robot kita tak mampu, memanjat pohon kelapa pun kita tak bisa. Sungguh, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari. Kemampuan apa yang sebenarnya kita miliki. Atau kita memang hanya layak menjadi bangsa yang terbata-bata!!
Si Bolang, ajari kami mengenal lingkungan serta mencintai alam di sekitar kami. Ajari pula kami hidup dan bangga atas apa yang kami miliki… |
posted by T.N. Jannah @ 8:33 PM   |
|
|
|
| Thursday, May 28, 2009 |
| KETERTARIKAN KIKA |
Kika kini berusia lima belas bulan. 14 Februari kemarin baby girl itu tepat berusia satu tahun. Rasa penasarannya kian membuncah. Kika mulai penasaran dengan apa pun yang ada di sekelilingnya.
Dulu, ketika caca masih seusia Kika, mama caca gemar membelikan caca berbagai mainan yang menurut mama caca adalah jenis mainan educative. Tapi setelah mama caca menyodorkan mainan-mainan itu buat caca –begitu pula KIka- mama caca sadar, bahwa mainan-mainan itu mungkin penting dan menambah ketrampilan mereka. Tapi bagi bocah-bocah kecil itu mungkin tak ada yang lebih menarik ketimbang apapun yang ada di sekitarnya. Menarik laci-laci atau mencoba mengulik berbagai tombol atau kabel yang membahayakan menurut orang dewasa, adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan lagi dan lagi…
Kadang jika melihat Kika sedang memenuhi rasa keingintahuannya tanpa rasa takut, mama caca jadi teringat sebuah buku, “Dunia Shofi.” Buku yang mengajak pembaca memahami filsafat melalui kisah seorang gadis 14 tahun yang bernama Shofi. Buku yang bersetting Norwegia itu mengatakan bahwa ketertarikan seorang filosof terhadap alam semesta adalah sebagaimana layaknya keingintahuan kanak-kanak. Bagaimana dengan logikanya, seorang batita menjumput bara api dan merasainya tanpa prasangka. Namun kemudian melemparnya seraya menjerit setelah tahu bahwa bara itu panas. Demikian juga seorang filosof yang mempelajari sesuatu. Dia akan mempertanyakan apapun yang ada di sekelilingnya sebagaimana seorang bayi yang baru mengenal dunia.
Nyatanya, tiap kali mama caca menyaksikan caca dan kika yang mulai tumbuh. Mama caca membenarkan perumpamaan yang di buat oleh pengarang ”Dunia Shofi” yang juga menulis buku Mistery Soliter “itu. Dunia kanak-kanak memang dunia yang penuh keingintahuan. |
posted by T.N. Jannah @ 6:12 AM   |
|
|
|
| Wednesday, December 17, 2008 |
| KADO BUAT MBAH KAKUNG |
Gak terasa, tahun ini mbah kakung caca udah berusia 71 tahun. Simbah emang lahir pada tanggal 17 Desember 71 tahun yang lalu. Jika pada ultah beliau yang ke 70 kemarin dirayakan oleh para kolega beliau secara meriah, bahkan dibarengi dengan peluncuran buku tentang kiprah sosial beliau. Untuk tahun ini cukup diperingati bersama keluarga saja. Dengan mengundang beberapa sanak saudara, digelarlah acara manaqiban, doa bersama serta potong tumpeng tentu saja.
Ketika itu abah dan mama caca kebingungan memastikan kado apa yang mesti diberikan buat mbah kakung pada ultah kali ini. Maklum, dikeluarga abah caca tradisi merayakan ultah anggota keluarga memang sudah ada sejak dulu. Biasanya masing-masing anggota keluarga saling memberikan kado sebagai ungkapan perhatian dan rasa saying. Gak harus bagus atau mahal. Yang penting bentung perhatian yang diberikan. Akhirnya atas usul caca, maka kami sepakat memberikan sebuah kado dan dua untai bunga mawar. Tapi tanpa dinyana, ternyata cucu yang juga baru merayakan ultahnya yang keempat itu punya rencana kejutan lain buat mbah kakungnya tanpa sepengetahuan abah dan mamanya. Ceritanya, setelah kado dan seuntai bunga buat mbah kakung seperti yang kita sepakati bertiga disampaikan pada beliau. Tiba-tiba caca lari pulang bersama seorang kawan kecilnya yang masih terhitung saudara. Kedua gadis kecil itu sibuk sendiri di dalam kamar caca. Tak lama kemudian caca muncul di hadapan simbah dengan membawa sebuah kotak mungil. Mama caca segera mendekat untuk memastikan caca tidak berbuat yang kurang sopan. Tapi sontak gadis kecil itu langsung marah dan meminta mama caca menjauh.
“itu kado buat mbahkung kok mama caca mau ikut-ikutan.” Ujar caca memperingatkan.
Setelah kotak berhasil dibuka. Ternyata isinya,
“Wow! Surprise!” mbah kakung langsung tertawa lebar.
Ternyata sebuah gantungan kunci boneka yang sebenarnya punya caca sendiri. Mbah putri yang semula tak begitu memperhatikan langsung mendekat dan terpingkal-pingkal melihat surprise caca. Semuanya tampak bahagia malam itu. Caca…caca… ada-ada aja gadis kecil itu! |
posted by T.N. Jannah @ 6:12 PM   |
|
|
|
|
| SURPRISE DARI ORANG-ORANG TERKASIH |
Sebenarnya tulisan ini mesti di up date tanggal 21 november lalu. Tapi gak apa deh, terlambat sedikit, tak mengurangi rasa terimakasih mama caca buat abah caca.
SELAMAT ULANG TAHUN, SELAMAT BERKARYA. Itu bunyi ucapan abah caca ketika menghadiahkan sebuah notebook buat mama caca. Duh, mama caca terharu banget ketika membukanya. Secara mama caca dah lama mengidamkan notebook itu. Dan kali abah menghadiahkannya di hari ultah mama caca.
Dan yang lebih membuat mama caca berkaca-kaca adalah harapan abah agar mama caca kembali serius menulis. Ketika muda mama caca emang pernah berkata. Dengan gaya-gayaan ala remaja ketika itu. Dengan terinspirasi soe hok gie mama caca pernah berucap; “Ada tiga opsi dalam hidup, menjadi Penulis, menjadi Jurnalis atau mati muda”. Duh, kalo sekarang kembali mengucapkannya ada rasa geli di hati mama caca. Songbong sekali ucapan itu terdengar! Tapi apa salahnya punya cita-cita. Dan waktu jualah yang akan membuktikannya.
Satu lagi surprise di hari ultah mama caca. Sebuah buku dongeng untuk anak dan mug dari University of Hawaii. Pengirimnya siapa lagi kalo bukan mama Mirza. Duh, jadi inget zaman baheula, dulu kita sering melontarkan guyonan sebagai calon besan. Uniknya, setelah menikah, ternyata mama mirza dikaruniai dua anak cowok. Sedangkan mama caca diberi dua anak cewek. Apakah ini juga pertanda bahwa kita akan benar-benar menjadi calon besan. Hehe… lagi-lagi waktu juga yang akan menjawabnya. Yang penting sebagai orangtua yang selalu berupaya untuk memiliki sikap bijaksana, tentu tidak ada niatan sedikitpun dihati kita untuk menjodohkan anak-anak kita. Hehe… Dan jangan salah, ini Cuma lucu-lucuan kita aja…
“hello mama mirza, makasih kadonya.” Ujar caca yang ikut menikmati dongeng doranya.
Selanjutnya, di hari Ultah itu mama caca berharap semoga segenap keluarga mama caca dikaruniai keimanan, kesehatan, rizki yang halal, kesabaran dan kemudahan dalam segala hal. Mama caca juga berdoa semoga keluarga ini menjadi keluarga yang berkah, sakinah mawaddah wa rahmah. Serta abah dan mama caca menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Amin. |
posted by T.N. Jannah @ 6:11 PM   |
|
|
|
| Wednesday, November 5, 2008 |
| DUH, MAKIN KOLOKAN AJA NIH SI EMBAK!! |
Ada hal yang meresahkan mama caca akhir-akhir ini. Tentang sifat kolokan caca yang kian menjadi. Semakin besar, agaknya caca mulai sadar akan posisinya dalam keluarga. Paling tidak, dia mulai bisa mengidentifikasi siapa orang-orang yang sering memarahinya atau siapa orang yang bakal menuruti apa pun kemauannya. Dan inilah repotnya, caca hidup berdekatan dengan mbah kakung dan mbah putri yang berlipat rasa sayangnya. Mbak kakung yang tak bisa memarahi caca seperti apa pun tingkah polahnya. Paling banter, jika caca sudah keterlaluan, mama caca yang diminta untuk memperingatkan caca.
Kondisi ini rupanya terbaca oleh caca. Si kecil berhidung mungil itu agaknya paham, bahwa ibu “yang suka memarahinya” itu segan jika harus marah di depan kedua simbahnya. Dan begitulah akhirnya, tingkah paling menyebalkan selalu ditunjukkan caca setiapkali abah, ibu, adek dan kedua simbahnya berkumpul.
Mungkin caca Cuma berniat CAPER di depan kedua simbahnya dengan melakukan hal-hal yang dilarang kedua ortunya. Mungkin juga caca mesti diberi waktu untuk lebih bebas berekspresi. Yang jelas, mama dan abah caca selalu berharap, semoga semakin bertambahnya umur caca nantinya, akan memberikan peningkatan pemahaman dan kesadaran dirinya untuk berbuat lebih baik. Mendidik anak memang bukan hal mudah, tapi kita memang harus berusaha untuk melakukan yang terbaik selagi predikat sebagai orang tua masih melekat dipundak kita. |
posted by T.N. Jannah @ 1:51 AM   |
|
|
|
|
| about me |
- Name: T.N. Jannah
- Location: pati, jawa tengah, Indonesia
tinggal di pati. sebuah kota kecil yang berbatasan dengan kudus. Ibu dua orang anak. pernah bercita-cita menjadi jurnalis, tapi memilih hidup sebagai ibu rumah tangga.
View my complete profile
|
| Udah Lewat |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
|
| HALO-HALO |
|
| BOLO-KONCO |
|
0
| Template by |
|
|